Penulis : Hana Asmita S.I.Kom
Selasa, 6 Oktober 2026
Rohul:Riaunet.com-Terhampar luas 526.400 hektar kebun kelapa sawit di kabupaten Rokan Hulu. Bagi petani, yang berharga dari kepala sawit adalah tandan buah yang sudah matang. Sementara pelepah dan daun sawit, biasanya dibiarkan membusuk dan terurai secara alami di kebun. Ditangan ibu-ibu kreatif IKM Langgak Craf, daun sawit nan hijau akan diolah, diambil lidinya, dan disulap menjadi berbagai jenis kerajinan tangan yang berharga yang apabila dijual menghasilkan cuan.
Suyanti (48), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Dusun Tiga Desa Koto Tandun, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, merupakan kader PKK aktif di Desa Koto Tandun. Sebagai seorang kader PKK sejak 2014, Suyanti pernah mengikuti berbagai pelatihan yang mengasah kemampuan dan kreatifitas ibu-ibu rumah tangga. Salah satunya, kegiatan pelatihan menganyam lidi sawit.
Berbekal ilmu yang diperolehnya dari pelatihan menganyam lidi sawit itu, Suyanti melakukan praktek mandiri dirumah. Diwaktu senggangnya usai mengerjakan pekerjaan rumah tangga, pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Suyanti praktek sendiri dirumahnya, menyerut lidi sawit dan menganyam lidi sawit hingga menjadi piring lidi sawit seperti yang dipelajari dalam pelatihan itu.
Berhasil dengan praktek menganyam lidi sawit yang dilakukan sendiri dirumah, pada akhir ditahun 2019 , Suyanti bersama sejumlah warga Koto Tandun mendirikan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), dibawah naungan PKK Desa Koto Tandun. Salah satu usaha yang dijalankan yakni menganyam lidi sawit menjadi berbagai kerajinan tangan seperti piring lidi sawit, keranjang buah, bakul, pas bunga dan lepek. Usaha ini dikelola oleh kelompok yang diberi nama Industri Kecil dan Menengah (IKM) Langgak Craf.
IKM Langgak Craf beranggotakan 20 orang, dan diketuai oleh Sri Harwati. Masing-masing memiliki peranan dalam proses produksi, ada bagian mengumpulkan daun sawit yang baru dipanen , ada bagian menyerut lidi, ada bagian menganyam, dan bagian pemasaran. Usaha ini dibangun dari modal swadaya , iuran anggota, sebesar Rp 800.000.
Ceritanya, setelah terbentuk, IKM Langgak Craf memiliki sedikit tenaga penganyam, sehingga diawal tahun 2020, dua orang anggota IKM Langgak Craf mengikuti pelatihan menganyam lidi sawit lagi, kegiatan pelatihan ini berlangsung di Pekanbaru. Melalui pelatihan ini, lahirlah 2 orang tenaga penganyam lidi sawit lagi. IKM Langgak Craf akhirnya memiliki 4 orang tenaga penganyam lidi sawit.
Merintis usaha ini tidak lah mudah, punya SDM sebagai pekerja juga membutuhkan dukungan peralatan yang memadai. Awal produksi, semua tahapan dilakukan manual, dengan alat seadanya. Pagi hari, pukul 9.00 WIB, anggota mengumpulkan daun sawit yang dibuang petani saat panen sawit . Daun sawit ini , dibersihkan secara kasar hingga hanya tersisa lidi sawit kotor. Inilah bahan baku utama kerajinan tangan di IKM Langgak Craf. Kemudian lidi sawit kotor ini dibawa rumah produksi IKM Langgak Craf untuk diserut lebih bersih.

Di rumah produksi ini, 3 orang anggota bertugas menyerut lidi sawit. Setiap anggota wajib menggunakan pisau kater, dan sarung tangan pelindung, agar saat menyerut lidi sawit tangan tidak lecet, atau memar, yang mengakibatkan kulit bisa menjadi kapalan. Membersihkan lidi sawit secara manual ini sangat terbatas, 2 jam pekerjaan untuk tiga orang anggota hanya mampu membersihkan 3 kilogram lidi sawit. Tentunya, sangat melelahkan, karena pekerjaan ini membutuhkan ketelitian yang tajam agar lidi sawit yang dihasilkan berkualitas.
” Menyerut lidi sawit yang digunakan untuk kerajinan tangan anyaman lidi sawit itu membutuhkan teknik khusus. Lidi yang sudah dibersihkan dengan rapi, harus dipotong bagian pangkalnya sekitar setengah sentimeter dari pangkal, untuk menghilangkan bagian yang keras.” terang Masita (53), anggota IKM Langgak Craf yang bertugas bagian membersihkan lidi sawit.
Masita dan rekannya kerap bekerja membersihkan lidi sawit ba’da Zuhur hingga Azhar. Setelah dibersihkan, tahan selanjutnya penyortiran. Lidi sawit yang disortir menjadi tiga kategori, lidi sawit panjang, lidi sawit menengah, dan lidi sawit pendek. Panjang lidi sawit menentukan jenis ahir produk anyamannya. Lidi sawit yang paling panjang kurang lebih 1 meter, digunakan untuk membuat parcel atau keranjang buah, lidi kategori panjang menengah berukuran 70-80 sentimeter menghasilkan anyaman bakul dan piring, sedangkan lidi yang pendek berukuran 40-50 sentimeter, menghasilkan anyaman lepek dan pas bunga.
Setelah disortir, sekitar pukul 17.00 WIB hingga menjelang magrib, ibu-ibu anggota penganyam datang menjemput, proses lanjut ke tahap penganyaman. Tahapan ini, adalah tahapan yang paling rumit. 3 kilogram lidi sawit, dibagi 4 orang anggota penganyam. Dengan waktu yang singkat, tangan tangan penganyam lidi sawit ini akan berlomba dengan waktu. Setiap lidi yang dibawa pulang, harus selesai dianyam dalam satu malam. Karena lidi sawit tidak boleh kering.
” Kami memiliki keterbatasan anggota penganyam. Tidak ada yang mau menganyam lidi sawit,karena prosesnya yang rumit dan sulit. Tenaga penganyam kami banyak sudah sudah lansia, hanya saya yang masih cekatan.” Ujar M.Ridawati (49).
Ibu 2 anak itu berbagai pengalamannya. Lidi sawit akan lebih mudah dianyam saat masih basah. Jika sudah kering, sulit dibentuk, bahkan lidinya sering patah. Sehingga penganyam harus berlomba dengan waktu. Saat menganyam lidi sawit terkadang jadi tangan sering tertusuk patahan lidi, yang membuat jadi bengkak. Tidak hanya itu saja, bagian tersulit dari menganyam lidi sawit juga terletak pada saat mempresisikan bentuk anyaman supaya rapi, bagus dan enak dipandang.
” Produk yang membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi dan sulit dianyam itu ,ya keranjang buah atau parcel, sulit karena ada tangkai keranjangnya . Pembuatan tangkai keranjang itu sangat rumit, hanya bisa dikerjakan oleh penganyam profesional.” Pungkas Ridawati.
Lebih lanjut, Ridawati menyampaikan, dirinya terbiasa menganyam lidi sawit saya malam, sekitar pukul 22.00 WIB, saat anak anaknya sudah tidur.
Proses akhir dari produksi anyaman. Lidi sawit ini adalah pemberian warna. Produk IKM Langgak Craf, memiliki warna yang khas yakni kuning cerah khas lidi sawit, dan kemudian finishing dengan pernis. Dari 3 kilogram lidi sawit bisa menghasilkan 18 piring lidi sawit, dengan biaya produksi Rp 8000 per piring.
” Kami menjual hasil kerajinan tangan anggota di toko Pusat Oleh- Oleh Rokan Hulu IKM Langgak Craf, yang beralamat di jalan Raya Tandun, Dusun III Desa Koto Tandun. Dan juga dijualkan secara online di media sosial Instagram IKM langgak craf, akun FB IKM Langgak Craf, dan toko online Shopee IKM Langgak Craf.” Ujar Suyanti, selaku pengelola toko IKM Langgak Craf.
Kerja keras ibu-ibu rumah tangga yang bergabung di IKM Langgak Craf tidak berjalan mulus. Pandemi Covid-19 dipertengahan 2020, membuat usaha kerajinan tangan ini menjadi surut. Kebijakan pemerintah lockdown membuat aktifitas pertemuan anggota terhenti, dan stop produksi.
CSR PT.SPR Langgak Jadi Penyelamat

PT.SPR Langgak, salah satu anak perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Riau yang bergerak disektor Hulu migas, melalui Corporate Social Responsibility ( CSR ) program pemberdayaan masyarakat dan UMKM lokal, melakukan pembinaan. Sebagai perusahaan yang beroperasi diwilayah Desa Koto Tandun, PT.SPR Langgak sigap dalam bertindak, sejak IKM Langgak Craf beridir 2019, pembinaan pun dilakukan.
Head of Field Support SPR Langgak Rafiq Adriansyah menyebutkan ditahun 2019 PT.SPR Langgak melakukan pembinaan bidang penguatan organsiasi, awal tahun 2020 disalurkan bantuan mesin serut lidi sawit serta bantuan pelatihan manajemen pengelolaan dan pemasaran. Bantuan mesin serut lidi sawit ini menjadi awal kemajuan IKM Langgak Craf. Dari produksi awal secara manual hanya menghasilkan kerajinan tangan 10 sampai 18 item dalam sehari, setelah memiliki mesin serut lidi, sehari 7 hingga 8 kilo lidi sawit bisa diproduksi dan dianyam menjadi 48 item kerajinan tangan. Perlahan produksi IKM Langgak Craf meningkat.
Dari sisi pengembangan bisnis, PT. SPR Langgak memberikan pelatihan khusus untuk ibu-ibu anggota IKM Langgak Craf, yakni pelatihan “Produksi Bersih Ramah Lingkungan” yang berlangsung di Rumbai, Pekanbaru. 10 orang ibu-ibu anggota Langgak Craf, diajarkan cara mengolah dan mendaur ulang limbah lidi sawit menjadi pupuk organik. Melalui pelatihan ini ibu-ibu IKM Langgak Craf mampu memproduksi Pupuk Organik Bokashi, yang sangat bagus digunakan untuk tanaman hias, sayuran, buahan, berhasil diproduksi.
Tak sampai disitu menjelang akhir tahun 2022, PT.SPR Langgak juga mewujudkan mimpi anggota IKM Langgak Craf untuk memiliki gerai berstandar ritel modren. Rumah produksi IKM Langgak Craf direnovasi menjadi Toko Oleh-Oleh Rokan Hulu. Gerai ini menjual produk IKM Langgar Craf, dan hasil usaha kecil masyarakat setempat seperti kripik pisang, keripik singkong , jahe merah, madu, dan jajanan lainnya. Upaya itu membantu IKM Langgak Craf terus berkembang dan menjadi tujuan belanja bagi masyarakat setempat, dan wisatawan yang melintasi jalan penghubung antara Kota Pekanbaru dengan Kota Ujungbatu serta Kota Pasir Pengaraian.
Bendahara IKM Langgak Craf mencatat kondisi penghasilan bersih dari tahun ke tahun terus meningkat. Hingga anggota bisa menikmati hasil usahanya , diluar upah kerja yang diterima dari proses produksi.
“Alhamdulillah, ditahun 2021 Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp 500.000, kemudian bertambah tahun 2022 menjadi Rp 750.000. 2023 , SHU bertambah lagi menjadi Rp 950.000, dan ditahun 2024 mencapai puncak tertinggi sebanyak Rp 1.647.000. Setiap anggota menikmati pembagian Sisa Hasil Usaha IKM Langgak Craf ini satu tahun sekali, di akhir tahun.” Ungkap Suyanti, Pengelola Gerai Langgak Craf.
Lebih dari yang diharapkan , nama IKM Langgak Craf sebagai UMKM binaan PT.SPR Langgak menjadi semakin dikenal dan mengharumkan nama Kabupaten Rokan Hulu ditingkat Nasional, setelah mengikuti ajang bergensi Northern Sumatera Forum 2021, di Hotel Best Western Panbil, Batam. Ketua IKM Langgak Craf Sri Harwati merima secara langsung apresiasi dan penghargaan serta dana pembinaan senilai Rp 15.000.000. Penghargaan ini mengapresiasi UMKM lokal agar terus tumbuh, berinovasi, dan memperkenalkan produk khas daerah ke tingkat yang lebih luas.

Kemudian ditahun 2022, IKM Langgak Craf juga mengikuti pameran UMKM yang inisiasi SKK Migas yang diikuti seluruh Kontraktor Kontak Kerjasama (KKKS) wilayah Sumbagut, yakni kegiatan Pra-Forum Kapasitas Nasional ( Kapnas ) Kegiatan Hulu Migas di Batam. IKM Langgak Craf
sebagai UMKM yang berhasil dibina KKKS PT.SPR Langgak, mempamerkan hasil kerajinan tangan anyaman lidi sawit. Masih ditahun yang sama, IKM Langgak Craf meraih juara 2 pameran UMKM pada event Northern Sumatera Forum , yang berlangsung Oktober 2022 di Medan.
Dekranasda Sarana Promosi Berkelanjutan

IKM Langgak Craf secara legalitas telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) dari pemerintah. Hal ini memudahkan IKM ini untuk memperluas pemasaran. Selama ini pemasaran dilakukan secara offline di Toko Oleh-Oleh Rokan Hulu, juga pemasaran lewat media sosial. Tercatat media sosial yang mempromosikan dan menjual anyaman lidi sawit produk IKM Langgak Craf yakni di akun FB, dan Instagram yang bernama IKM Langgak Craf. Kemudian pengelola juga memiliki toko online di shopee.
Produk IKM Langgak Craf teridir dari 5 macam yakni piring lidi sawit dijual seharga Rp 100.000 per lusin, vas bunga dan lepek dijual Rp 70.000 per lusin, keranjang buah dijual Rp 30.000 per pcs, dan bakul nasi dijual Rp 30.000 per pcs.
Sebagai usaha yang berkembang dibawah binaan UP2K PKK Desa Koto Tandun, IKM Langgak Craf juga dibina oleh Dinas Perdagangan Dan Perindustrian Kabupaten Rokan Hulu. Pemerintah kabupaten Rokan Hulu melalui Dekranasda memfasilitasi IKM Langgak Craf mengidentifikasi produk kerajinan unggulan, meningkatkan keterampilan desain kualitas dan kemasan produk memperkuat merek promosi dan daya saing produk menghubungkan pengrajin dengan pameran dan mitra usaha. Anyaman lidi sawit IKM Langgak Craf kerap menghiasi meja pameran Dekranasda Rohul, baik dalam event expo daerah maupun kegiatan PKK.
Kepala Disperindag Rokan Hulu, Sugesti menyampaikan IKM Langgak Craf merupakan satu dari 3 IKM yang bergerak dibidang anyaman lidi sawit yang paling aktif dibawah binaan Pemkab Rokan Hulu.
” Setiap ada pameran, produk lokal UMKM dan IKM Rokan Hulu, termasuk produk anyaman lidi sawit dari IKM Langgak Craf selalu kita hadirkan dimeja. Alhamdulillah selalu mendapat sambutan yang baik dari para konsumen. Produk IKM Langgak Craf ini sangat rapi, warnanya indah, produknya yang bermanfaat sebagai peralatan rumah tangga.” Ujar Sugesti.
Ketua Dekranasda sekaligus Ketua TP. PKK Kabupaten Rokan Hulu, dr.Yeni Dwi Putri Anton, saat ditemui dalam acara Bazar UMKM PKK tahun 2026, dalam kegiatan “Rapat Penguatan Tata Kelola Kelembagaan TP.PKK, Dekranasda, dan TP.Posyandu Tingkat Kabupaten Rokan Hulu yang berlangsung Kamis, 1 Oktober 2026 di Convention Hall Islamic Center Rokan Hulu menyampaikan bahwa produk UMKM dan IKM lokal akan selalu dibina agar terus tumbuh , berkembang, maju dan menghasilkan untuk anggotanya.
” Ayo cintai produk UMKM dan IKM lokal Rokan Hulu. Bersama kita berkarya, bersama kita maju membangun negeri. Bangunlah negeri Rokan Hulu sesuai kapasitas kita masing-masing” Imbuh dr.Yeni Dwi Putri Anton, Ketua Dekranasda Rokan Hulu
Keberhasilan IKM Langgak Craf dalam mengembangkan usaha anyaman lidi sawit memang sudah booming, banyak IKM di Rokan Hulu yang lahir dan termotivasi dari semangat serta kegigihan serta pretasi IKM Langgak Craf. Gerakan ibu ibu rumah tangga di Desa Koto Tandun ini menjadi gerakan kecil yang menghasilkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat Rokan Hulu. Dulunya daun sawit dan lidi sawit hanya dianggap sampah, namun saat ini menjadi sumber penghasilan baru, bagi ibu-ibu rumah tangga, untuk mengisi waktu luangnya.
IKM Langgak Craf saat ini membutuhkan dukungan modal. Usaha yang ditopang oleh kekuatan mesin serut lidi ini tengah tidak baik baik saja. Dalam satu tahun terakhir usaha ini mengalami penurunan. Mesin serut lidi sawit mengalami kerusakan, dan anggota penganyam lidi sawit sudah sangat lansia. Sementara generasi penganyam baru sangat sulit dicari.

Kepala Desa Koto Tandun yang dijabat oleh PJs Aly Yusuf, saat ditemui dikantor Kepala Desa Koto Tandun, menyampaikan bahwa dirinya telah mempersiapkan pelatihan menganyam lidi sawit untuk masyarakat Desa Koto Tandun. Kegiatan pelatihan ini juga bertujuan untuk menyokong warga Koto Tandun yang saat ini sudah mulai menjamur, memproduksi lidi sawit.
” Saat ini warga Koto Tandun masih banyak yang menyerut lidi sawit untuk dijual ke toke dan lidi sawit dijual Rp 5.000 per kilogram. Kedepan setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan bahan baku lidi sawit ini bisa diolah untuk dianyam dan menghasilkan produk anyaman lidi sawit , yang tentunya jauh lebih berharga.” Ujar Ali Yusuf
Jika diawal tahun 2019 pengerajin lidi sawit hanya tersentral di Dusun III Desa Koto Tandun, saat ini hampir seluruh Dusun di desa binaan PT.SPR Langgak ini sudah memiliki pengrajin lidi sawit. Saat ini menyerut lidi sawit menjadi salah satu matapencaharian warga Desa Koto Tandun, terutama para ibu rumah tangga. (Na)







Komentar